Sholat Rowatib yang berjumlah 4 raka'at (Qobliyah Dzuhur, Ba'diyah
Dzuhur dan Qobliyah Ashar) jika dikerjakan semua, boleh untuk dikerjakan
dengan cara digabung yaitu dengan dikerjakan 4 raka'at sekaligus dengan
1 kali takbirotul ihrom dan 1 kali salam, baik dengan 1 kali tasyahud
ataupun 2 kali tasyahud. Namun yang lebih afdlol dikerjakan dengan cara
dipisah (2 raka'at, 2 raka'at) yaitu dengan 2 kali takbirotul ihrom dan 2
kali salam.
![]() |
Bacaan Khusus
Dalam Sholat Qobliyah Shubuh dan Ba'diyah Maghrib setelah membaca surat Al-Fatihah terdapat surat-surat dan ayat-ayat khusus yang sunah untuk dibaca , yaitu :
- Sholat Qobliyah Shubuh :
Roka'at pertama membaca Surat al-Baqoroh ayat 136 :
Roka'at kedua membaca Surat Ali Imron ayat 64:
Atau membaca :
Roka'at pertama: Surat Asy-Syarh (أَلَمْ نشْرَحْ)
Raka'at kedua : Surat Al-Fiil ( أَلَمْ تَرَ)
Atau membaca :
Roka'at pertama: Surat Al-Kafirun
Raka'at kedua : Surat Al-Ikhlash
Dan yang lebih utama membaca seluruh surat dan ayat di atas dengan urutan :
Roka'at pertama
Surat Al-Baqoroh ayat 136, Surat Asy-Syarh dan Surat Al-Kafirun
Raka'at kedua
Surat Ali Imron ayat 64, Surat Al-Fiil dan Surat Al-Ikhlash
- Sholat Ba'diyah Maghrib
Roka'at pertama : Surat Al-Kafirun
Raka'at kedua : Surat Al-Ikhlash
Niat Sholat Rowatib
Qobliyah Shubuh
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلهِ تَعَالَى
"Saya niat Sholat Sunah Qobliyah Subuh 2 roka'at karena Allah Ta'ala"
Qobliyah Dzuhur
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلهِ تَعَالَى
"Saya niat Sholat Sunah Qobliyah Dzuhur 2 roka'at karena Allah Ta'ala"
atau
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلِيَّةً لِلهِ تَعَالَى
"Saya niat Sholat Sunah Qobliyah Dzuhur 4 roka'at karena Allah Ta'ala"
Ba'diyah Dzuhur
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلهِ تَعَالَى
"Saya niat Sholat Sunah Ba'diyah Dzuhur 2 roka'at karena Allah Ta'ala"
atau
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ بَعْدِيَّةً لِلهِ تَعَالَى
"Saya niat Sholat Sunah Ba'diyah Dzuhur 4 roka'at karena Allah Ta'ala"
Qobliyah Ashar
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلِيَّةً لِلهِ تَعَالَى
"Saya niat Sholat Sunah Qobliyah 'Ashar 4 roka'at karena Allah Ta'ala"
Qobliyah Maghrib
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلهِ تَعَالَى
"Saya niat Sholat Sunah Qobliyah Maghrib 2 roka'at karena Allah Ta'ala"
Ba'diyah Maghrib
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلهِ تَعَالَى
"Saya niat Sholat Sunah Ba'diyah Maghrib 2 roka'at karena Allah Ta'ala"
Qobliyah Isya'
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلهِ تَعَالَى
"Saya niat Sholat Sunah Qobliyah 'Isya' 2 roka'at karena Allah Ta'ala"
Ba'diyah isya'
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْعِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلهِ تَعَالَى
"Saya niat Sholat Sunah Ba'diyah 'Isya' 2 roka'at karena Allah Ta'ala"
Fadhilah/Keutamaaan Shalat Sunnah Rawatib
Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, Istri Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّى
لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ
فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَوْ إِلاَّ
بُنِىَ لَهُ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ. قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ فَمَا
بَرِحْتُ أُصَلِّيهِنَّ بَعْدُ
“Seorang hamba yang muslim melakukan shalat sunnah yang bukan wajib,
karena Allah, (sebanyak) dua belas rakaat dalam setiap hari, Allah akan
membangunkan baginya sebuah rumah (istana) di surga.” (Kemudian) Ummu
Habibah radhiyallahu ‘anha berkata, “Setelah aku mendengar hadits ini
aku tidak pernah meninggalkan shalat-shalat tersebut.”
Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan shalat sunnah rawatib,
sehingga Imam an-Nawawi mencantumkan hadits ini sebagai hadits yang
pertama dalam bab: keutamaan shalat sunnah rawatib (yang dikerjakan)
bersama shalat wajib (yang lima waktu), dalam kitab beliau Riyadhus
Shaalihiin.
Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:
Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang dikerjakan sebelum dan sesudah shalat wajib lima waktu.
Dalam riwayat lain hadits ini dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dan memerinci
sendiri makna “dua belas rakaat” yang disebutkan dalam hadits di
atas, yaitu: empat rakaat sebelum shalat Zhuhur dan dua rakaat
sesudahnya, dua rakaat sesudah Magrib, dua rakaat sesudah Isya’ dan dua
rakaat sebelum Subuh. Adapun riwayat yang menyebutkan: “…Dua rakaat
sebelum shalat Ashar”, maka ini adalah riwayat yang lemah karena
menyelisihi riwayat yang lebih kuat yang kami sebutkan sebelumnya.
Keutamaan yang disebutkan dalam hadits di atas adalah bagi orang yang
menjaga shalat-shalat sunnah rawatib dengan melaksanakannya secara
kontinyu, sebagaimana yang dipahami dan dikerjakan oleh Ummu Habibah
radhiyallahu ‘anha, perawi hadits di atas dan demikian yang diterangkan
oleh para ulama.
Jika seseorang tidak bisa melakukan shalat sunnah rawatib pada waktunya
karena ada udzur (sempitnya waktu, sakit, lupa dan lain-lain) maka dia
boleh mengqadha (menggantinya) di waktu lain. Ini ditunjukkan dalam
banyak hadits shahih.
Dalam hadits ini terdapat peringatan untuk selalu mengikhlaskan amal ibadah kepada Alah Ta’ala semata-mata.
Hadits ini juga menunjukkan keutamaan amal ibadah yang dikerjakan secara
kontinyu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Amal
(ibadah) yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah amal yang paling
kontinyu dikerjakan meskipun sedikit.”
Semangat dan kesungguhan para sahabat dalam memahami dan mengamalkan
petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, inilah
yang menjadikan mereka lebih utama dalam agama dibandingkan generasi
yang datang setelah mereka.
Sekian dari saya, semoga bermanfaat dan semoga kita senantiasa akan terbiasa dengan melakukan shalat Rawatib.. Aamiin..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar